Kamis, 21 Juni 2012

BRONDONG opo SALAK... hihihi...

Iyaaa... iyaa... itu plesetan dari lirik lagu Dondong opo Salak... hehehehe...

Tiba-tiba terbersit aja plesetan itu setelah melihat fenomena yang belakangan lagi hits -> perempuan matang kepincut brondong. Udah laaahhh... gak usah capek-capek ngebahas Yuni Shara - Raffi Ahmad atau Tamara Beszinsky yang akhirnya cerai juga ama Mike. Ngomongin yang ada di sekeliling kita aja laaahhh... *wuiiihhh...gossip mode on*

Tapi sebelum lanjut, aku ganti aja ya istilah brondong dengan pria kemampo, kayaknya kok local content-nya lebih dapat dan crunchy. Kemampo itu istilah untuk buah-buahan yang setengah matang. Nah, pas kan kalau istilah brondong dengan pria kemampo? :D

OK, gini... rada seriusan dikit ya.... Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apa sih yang membuat perempuan-perempuan matang dan -kebanyakan- mandiri itu kepincut sama pria yang usianya jauh di bawah dia. Hellooowww.... bagi perempuan, age is just a number. That's it. Kenapa gitu? Soalnya di dalam diri setiap pria, berapa pun usianya, ada unsur 'bocah' di dalamnya. Jadiiii... mau jalan sama pria berusia matang maupun yang masih kemampo ya sama saja...

Trus... apa sih daya tarik pria-pria kemampo itu? Bagi orang-orang yang punya pandangan negatif, pasti mereka menuding perempuan-perempuan matang itu sebagai pemburu jamu biar awet muda. Hmmm.... gak sepenuhnya benar! Entah kenapa, banyak pria kemampo yang memang jauh lebih dewasa di atas usianya. Atauuu... dia adalah tipe yang sangat dekat dengan ibunya, jadi tau bagaimana cara menyayangi perempuan yang dicintainya. Nah.... kemampo seperti apakah yang sedang Anda hadapi saat ini?

Nah, aku menemukan beberapa pria kemampo yang memang cenderung menyukai perempuan yang lebih matang dan aku coba analisa-analisa dikit deh. Ada 1 orang yang dia menyukai wanita matang karena justru tidak menemukan kasih sayang seorang ibu di rumah, jadinya di nyari di luar. Ada juga kenalanku, pria kemampo yang dekat dan sayang banget sama ibunya, jadi dia memperlakukan para perempuan as a lady dan inilah yang membuat perempuan-perempuan matang itu klepek-klepek. 

Barusan aku nemu 1 lagi pria kemampo yang hubungannya dengan perempuan matang terbilang awet. Aweeett banget. Tapi ya itu, untuk melegalkan hubungan kayaknya sulit, akibatnya ya affair lagi...affair lagi. Ruwet toh.... Yang menyedihkan lagi, si pria kemampo yang sebenarnya imut manis berusaha 'mematangkan' dirinya supaya setara dengan si perempuan itu. Jadinya ya dia terlihat jauh lebih tua dari usia yang sesungguhnya. Sedih deh aku lihatnya. Kalau aku sendiri sih biarin aja, gak usah dipaksain untuk 'menyatukan' jarak usia yang memang sebenarnya gak bisa lebih dipendekkan....

Apesnya... perempuan-perempuan matang yang menjalin hubungan dengan pria kemampo cenderung dicap negatif. Dan memang nggak satu dua pernikahan gagal gara-gara hubungan yang dianggap nyeleneh ini. Padahal, -menurutku- penyebab selingkuh antara laki-laki dan perempuan itu beda. Kebanyakan laki-laki selingkuh karena ada 'tantangan' di luar sana, meski sebenarnya rumah tangga dia baik-baik saja. Sementara perempuan kalau sudah selingkuh, apalagi kalau sampai selingkuh hati, berarti memang ada lobang dalam pernikahannya, apakah dia tidak mendapatkan pemenuhan kebutuhan psikologis, biologis, dan finansial dari pasangannya, atau ketidakcocokan yang dia tutup-tutupi.

Jadi.... sebenarnya perempuan-perempuan matang itu nggak khusus memburu pria kemampo kok, tapi kebetulan aja dia nemu pria yang usianya masih di bawah dia. Yang dia utamakan adalah pemenuhan kebutuhan psikologis (dan biologisnya juga kali), kalau pun dapat yang jauh lebih muda, ya itu bonus... :D

-@DidiCahya-


FULL TIMER vs PART TIMER

Ngobrol tentang SDM, terutama SDM radio gak ada matinya. Boro-boro netapin standar di dalam perusahaan. Definisi dan jobdesc awak radio aja secara umum aja nggak ada standarnya. Pernah aku singgung kan, gimana aku merasa ada radio yang diskriminatif terhadap bagian program dengan hanya memberi honor 7 ribu rupiah / jam di Denpasar sana. Sementara AE-nya bisa ngantongin duit 2 juta rupiah / bulan.
Nah, itu yang beda divisi. Gimana dengan rewards kepada SDM radio yang berstatus full timer dan part timer? Alhamdulillah, aku sudah merasakan dua-duanya dan -menurutku- aku selalu beruntung mendapatkan penghargaan berupa income yang bagus, baik sebagai full timer maupun part timer.
Sebenarnya enak mana sih jadi full timer atau part timer? Menurutku sih tergantung kebutuhan masing-masing orang. Kalau memang mau yang ‘aman’ sih enak full time. Kenapa aman? THP per bulan jelas. Ada jamsostek, asuransi kesehatan, uang hadir, THR, dan tunjangan-tunjangan lainnya. Konsekuensinya jelas, kerja 8 atau 9 jam/hari dan rada-rada susah kalau mau ambil libur sewaktu-waktu. Sementara kalau part time kesannya emang enak. Jam kerja pendek, bisa minta izin sewaktu-waktu, masih bisa nyambi kerjaan lain. Jelas kan kalau masing-masing pilihan ada plus-minusnya.
Tapi mengapa masih ada full timer yang ‘iri’ kepada part timer, terutama terhadap penyiar? Ini terkait dengan THP part timer yang seringkali bisa lebih tinggi dari para full timer, padahal kerjaan mereka terlihat lebih ringan. Aku bilang ‘terlihat lebih ringan’ karena sesungguhnya pekerjaan penyiar part time itu tidak ringan. Kenapa gitu? Karena penyiar part time adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas apa yang dia ucapkan, meski ada produser maupun PD di belakangnya. Pernah ada kasus kan, saat penyiar part time saat itu juga diberhentikan karena ucapannya menyinggung klien station mereka.
Belum lagi berdasarkan pengalamanku di radio lama, honor penyiar ditentukan oleh prestasi si penyiar termasuk ‘kewajiban’ si penyiar agar programnya bisa keluar angka di Nielsen. Kalau ternyata nggak tembus juga, ya konsekuensi yang diterima si penyiar adalah bersedia dipinggirkan atau bahkan disingkirkan. Apakah ini berlaku pada full timer? Secara system sih nggak. Kerjaan mereka gitu-gitu aja tetap bisa dapat gaji penuh tuh.
Di radio lamaku dulu, aku termasuk penyiar yang bawa pulang gaji lumayan tinggi, yang seringkali lebih tinggi dari teman-teman full timer. Kenapa? Lha wong aku satu-satunya penyiar yang masih single plus bisa ditaruh di jam siaran mana aja, termasuk siaran sahur. Lumayan tuh kalau pas totalan jam siaran, apalagi kalau sering siaran di tanggal merah :D. Dan setelah aku jadi full timer (masih di radio yang sama) aku nggak iri saat teman-teman penyiar bayarannya lebih tinggi dari aku meski jam kerja mereka lebih pendek. Kenapa? Soalnya aku sadar, tanggung jawab mereka juga besar. Bisa aja aku menge-cut mereka sewaktu-waktu kalau mereka nggak mencapai target siar.
Waktu di Semarang aku sempat menawarkan system karyawan part time untuk para karyawan yang sudah ogah-ogahan kerjanya. Langsung beramai-ramai mereka mengajukan diri untuk ganti status, dan berbondong-bondong pula mereka mundur saat tahu fasilitas mereka sebagai full timer seperti uang hadir, tunjangan kesehatan, dll, akan dicabut. Hlaaah… mau lo appaaaa? Waktu kerja part time dengan penghasilan full time? Hohohooooo… saya tidak sebodoh itu bikin aturan… :D
Itu kenapa seringkali aku ketawa kalau masih ada full timer yang iri sama penyiar part time. Ngurusi kok yang diurus periuk nasi orang lain. Mbok wes toh… kerjakan pekerjaanmu sebaik-baiknya. Berprestasilah. Penghasilan akan mengikuti. Kalau nggak di kantormu sekarang, ya di kantor lain yang bisa lebih menghargai kamu. Tapi pertanyaannya adalah, bagaimana kamu bisa berprestasi kalau waktu bekerjamu banyak dihabiskan untuk bergunjing?


 Jadi ingat obrolan dengan Pak Errol Jonathan pas di HUT SS ke 29 yang intinya adalah, mencari SDM radio sekarang ini memang tidak mudah. Tinggal bagaimana kita bisa mengelola SDM yang masih ada.


-@DidiCahya-

Rabu, 09 Mei 2012

LIFE ISN'T COMPLICATED, BUT YOU ARE

" Marriage is not recommended for complicated person..."

Itu adalah kalimat yang sempat jadi status fesbukku beberapa hari lalu. Gak ada maksud apa-apa sih... cuma waktu itu pengen melakukan penggalauan ke seorang teman baru. Kata kunci dari tulisan itu adalah complicated person. Yups, orangnya. Bukan kehidupannya.

Hidup ini sebenarnya sederhana, sesederhana kalau lapar ya makan, kalau ngantuk ya tidur, kalau capek ya istirahat. Tapi pasti banyak yang nggak setuju dan bilang, "Nggak segampang itu...!!!" Gimana kalau kata-kata itu kita balik, "Ya, sesederhana itu."

Yang bikin segalanya terlihat nggak mudah itu sebenarnya aturan-aturan yang ada di balik solusi-solusi sederhana dalam persoalan hidup. Misalnya, kalau lapar ya makan, tapi makanlah yang menjadi hakmu. Kalau ngantuk ya tidur, tapi selesaikan dulu kewajibanmu. Kalau capek ya istirahat, tapi jangan sampai melalaikanmu. Sederhana kan...??? Sayangnya aturan-aturan sederhana ini tidak dilihat dengan cara sederhana juga melainkan dengan cara ruwet plus alasan-alasan 'cerdas'nya

Aku jadi ingat pertanyaan seorang mahasiswa yang sedang magang di kantor. Pertanyaan dia terkait dengan public speaking. Kurang lebihnya gini :
   "Gimana cara supaya nggak nervous pas ngomong di depan orang banyak?"
   "Ya jangan nervous."
   "Supaya gak nervous?"
   "Ya PD aja."
   "Supaya PD?"
   "Ya jangan nervous."


Mbulet? Memang. Karena sebenarnya hidup ya memang sesederhana itu. Orang-orangnya aja yang bikin ruwet. Life isn't complicated, but you are.....

-didi-
 

Senin, 07 Mei 2012

Pendidikan Agama ala Ibu

Jujur saja, aku sering sedih kalau banyak orang yang saling ngotot demi membela 'harga diri' agama yang dianutnya. Menurutku agama itu agung. Dia sangat berwibawa, berkharisma, sehingga kilau kemuliaan agama itu tak terkalahkan dan tak membutuhkan pembelaan dengan cara salah (yang dianggap benar). Di saat memikirkan agama, aku selalu teringat akan ibu, orang pertama yang mengajariku agama. Beliau adalah perempuan solehah yang mengajari aku tentang agama dengan cara yang sangat sederhana.

Kesederhanaan pertama adalah bagaimana beliau mengajariku mengaji. Haduh, blas nggak mbulet pakai alif fatkah a dan seterusnya, melainkan langsung a i u, ba bi bu, dan seterusnya. Makanya aku paling sumpek kalau disuruh ikut belajar ngaji bareng teman2 di kampung. Bukannya apa-apa, aku gak ngeh dengan metode mereka. Kalau ngeja satu2 sudah bisa dipastikan aku bakal kalah duluan. Ibu juga rajin banget khataman Qur'an. Cengkok2 khas ibu masih terngiang sampai sekarang dan sedikit banyak kalau aku ngaji agak2 niru cara ibu.

Selain tentang ritual, Ibu mengajariku ttg akidah, tauhid, dan pengetahuan2 agama lainnya dengan cara sederhana. Misalnya, saat aku menginjak remaja lalu melanjutkan kuliah di luar kota, Ibu selalu menekankan. "Nduk, jangan pernah kamu main ke rumah laki2. Biarkan dia kalau butuh yang mencarimu." Lalu juga ibu menegaskan berulang-ulang untuk aku mencari jodoh seiman. Ibu tidak berbicara tentang ayat atau tentang surga-neraka. Ibu malah pernah bilang, "Pokoknya kamu cari suami yang Islam. Sholatnya bolong2 ya terserah, pokoknya Islam, bisa syahadat."

Awalnya aku mengamini tanpa analisa dan mendalami kata2 Ibu karena toh pada perkembangannya sebagai manusia yang bertumbuh aku pun mencari pengetahuan agama secara mandiri. Namun setelah sekian lama mencoba menganalisa, aku akhirnya paham mengapa aku harus menikah dengan laki2 seiman. Bukan masalah apapun agamamu Tuhan tetap sama, melainkan lebih kepada bagaimana kita menjalankan keyakinan itu secara total. Kebayang jika terjadi pernikahan dengan agama yang berbeda, sebagai perempuan aku dirugikan karena meski sah di mata hukum (ke luar negeri dulu kale :D) namun di mata agama aku terhitung berzina. Belum lagi seandainya aku melahirkan anak, siapa yang ngadzanin? 

Itu kalau dari sisi si perempuan. Bagaimana kalau dari sisi cowok? Kebayang nggak sih saat anakmu dilahirkan tiba2 pihak si ibu tidak mengizinkan sang ayah ngadzanin anaknya dengan alasan biar si anak menentukan apa agama yang akan dia anut. JLEBB...

So, jangan suruh aku sampaikan ayat2 dan jangan kau ukur sejauh mana aku menjalankan agama termasuk ibadahku. Yang jelas ibuku mengajarkan agama dengan caranya yang sederhana karena sebenarnya apapun agama yang kamu anut itu semua sederhana dibalik keagungan agama itu sendiri. 

-didi-

Rabu, 02 Mei 2012

MINYAK dan AIR di Radio

Ngomongin radio itu gak bakalan ada habisnya. Dari pahit2nya sampai manis2nya. Salah satu 'kepahitan' di dunia radio adalah 'perseteruan' antara divisi sales dan program. Semuanya aku beri tanda kutip ya...karena sebenernya sih nggak gitu2 amat, tapi memang perseteruan itu ada, meski terkadang samar.

Yang kerja di radio pasti ngerti lah, gimana seringkali 2 divisi ini seperti minyak dan air, tapi sebenarnya sama2 dibutuhkan.  Kenapa aku bilang seperti minyak dan air? Karena dua2nya penting tapi untuk menyatukan visi, misi, dan kinerja keduanya nggak gampang. Sering terjadi divisi program nuding sales nggak bisa jualan. Sales balas nuding kalau program yang dibuat itu jelek, jadi nggak bisa dijual. Belum lagi kalau sales bilang bahwa tanpa mereka maka radio itu mati karena nggak ada pemasukan, sementara program bilang sales juga nggak bisa makan kalau nggak ada program yang dijual. Belum lagi friksi2 yang sebenarnya printhilan kecil2 nggak penting yang seringkali berujung baratayudha antara sales dan program. Nah, dari gambaran itu saja sih sebenarnya sudah terlihat bahwa sebenarnya sales dan program itu SAMA-SAMA PENTING dan SAMA-SAMA MEMBUTUHKAN, tapi sama2 meninggikan ego dengan merasa lebih penting dari divisi yang lain.

Teorinya sih seharusnya mereka memang nggak perlu berantem, tapi prakteknya? Barusan aku ngalamin sendiri. Barusan ini maksudnya adalah hari ini, baru aja aku alami, betapa diskriminatifnya perusahaan menghargai divisi program. Bayangin aja, gaji untuk AE sekitar 2 jutaan, sementara penyiar part time mendapatkan honor/jam HANYA 7 ribu rupiah. Sempat tadi hitung-hitungan, sebulan paling mentok si penyiar part time dapat nggak sampai sejuta, sekitar 600 ribuan. 

Njiiirrr.... rada-rada gimana deh kalau aku disuruh ngoceh per jamnya cuma dibayar segitu, sementara AEnya dapat 2 jutaan. Akhirnya aku mikir, bener juga sih apa yang diributkan teman2 di milis praktisiradio, terutama ama si @BonnyPrasetia . Di radio penggajian itu nggak ada standarnya, apalagi jika keuangan radio itu hanya bergantung pada pemasukan iklan. Di situlah divisi sales berasa jadi dewa, dan karena radio itu sangat butuh uang, nggak heran kalau akhirnya banting2an harga iklan terjadi. Iklan yang masuk banyak, tapi duitnya sedikit. Si penyiar pun pasrah dapat honor cuma segitu. Kalau udah gini pasrahlah divisi program. Terserah deh, pokoknya masih bisa pulang bawa uang....

Kalau hal ini terjadi (dan memang sudah terjadi) muncul pertanyaan. Whoi.... manajemen radiomu gimana sih? Kamu cuma menghambur-hamburkan space (berupa frekuensi) yang kamu punya dalam bentuk jualan gak jelas juntrungannya. Pihak manajemen pun berteriak, "Whoiii.... kami cuma nurutin kehendak owner." Dan ownerpun dengan anteng berkata, "Trus maumu apa? Nggak nurutin aku yang nggaji kamu? Ya sana toh cari radio lain."

Wah, kalau kejadiannya kayak gini sih aku mending mecat perusahaan ini. Mengapa? Karena perusahaan ini nggak berhasil membuat divisi sales dan program menjadi sinergi yang luar biasa. Cobalah minyak dan air ini disatukan dalam belanga, ditambah bumbu, masukkan daging, tambahkan sayur, jadilah dia masakan yang lezat. Radio juga gitu. Kawinkan divisi sales dan program. Serasikan. Samakan irama langkahnya. Maka mereka akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Selama pihak manajemen masih menganaktirikan salah satu divisi, radio itu nggak bakalan maju, sampai kapanpun. 

So.... masih ngerasa divisimu di radio paling penting? Basi....!!! 

-didi-

Selasa, 01 Mei 2012

INI RADIOKU. (Bagaimana) RADIOMU ?

Aku adalah salah satu anggota milis praktisiradio. Aku ingat waktu pertama kali Bang Harley bikin milis ini dan memaksa aku (memaksa, bukan 'memaksa') untuk jadi anggotanya. Jadilah aku punya nomor punggung FDR 030. Termasuk anggota awal, mengingat saat ini anggota milis sudah tembus 500.

Waktu awal-awal berdiskusi di milis ini, aku langsung berantem sama Agung Pindang. Menurutku orang ini nggapleki banget! Sampai akhirnya kami ketemuan di summit pertama di Jogja, lanjut ngobrol di summit ke 2, dan akhirnya jadi teman diskusi yang gayeng saat aku bertugas di Semarang. 

Selain mengikuti milis praktisiradio, meski nggak terlalu intens, aku juga ngikutin twit2 anak2 radio plus ngobrol2 langsung. Kesimpulan sementaraku dari pengembaraan di milis, twitter, bahkan obrolan adalah : Nggak pas kalau kamu mengklaim radiomu beserta sistemnya sebagai yang terbaik! (puih, pakai tanda seru :D).

Kenapa gitu? Masing2 radio dengan segala sistem dan kebijakaannya pasti dibuat atas kepentingan si radio itu sendiri. Saat satu sistem, style, kebijakan program dan marketing sudah dicanangkan oleh satu radio, pasti si pengambil keputusan sudah tahu akan dibawa kemana radio ybs. Contoh, ada radio yang konsisten menjadi hits maker, ada juga radio yang hanya memutarkan lagu2 yang hits berulang2. Ada radio dewasa yang memutuskan untuk menjadikan informasi sebagai konten utamanya, ada juga radio yang hanya memutarkan lagu2 dan info2 ringan. Ada radio yang mematok rate iklan dengan harga istimewa -mahalnya-, ada juga radio yang sudah merasa cukup dengan subsidi owner dan rate iklan ala kadarnya asalkan para karyawan bisa makan. Every station has their own policy.

Mungkin kita gerah dan marah dengan radio yang menjatuhkan harga iklan dengan pasang rate rendah, tapi tanpa radio beginian apa indikator bahwa posisi radio kita lebih tinggi? Jika ada radio yang hanya memutarkan lagu2 yang sudah hits, apakah 'kasta' radio2 seperti ini lebih rendah dr radio2 hits maker? Toh billing iklan sama2 tinggi. Apakah radio dewasa yang hanya memutar lagu, iklan, dan info ringan bisa dinilai tidak bermutu jika dibandingkan dengan radio2 yang menyiarkan informasi aktual terbaru?

So... suka tidak suka, hargailah policy radio lain tanpa kita harus menjelekkan, mencemooh, maupun mencibir ke radio2 yang dianggap lebih rendah 'kasta'nya. Jadi ingat obrolan dengan Mas Errol Jonathan dua tahun lalu di Semarang, "Bisa dibayangkan jika Suara Surabaya menurunkan rate iklannya, otomatis harga iklan di radio2 Surabaya juga akan jatuh." Nah... berarti antar radio itu seharusnya bisa seperti Yin-Yang toh? Saling support tanpa harus menjatuhan satu sama lain. Bisa kan? Ini radioku. (Bagaimana) Radiomu?


-didi-

Selasa, 10 April 2012

SEGELAS ES TEBU...

Apa pelarianmu saat banyak masalah? Please deh ya...jangan jawab mendekatkan diri kepada Tuhan, introspeksi, dan jawaban-jawaban normatif lainnya. Bukan jawaban seperti itu yang butuhkan karena bagaimana kalian berkomunikasi sifatnya personal dan tidak semua orang perlu tahu.

Ada yang memilih bermeditasi, ada pula yang lebih suka tidur seharian. Ada yang rally nonton film di bioskop, ada juga yang menghabiskan bensin untuk jalan-jalan kemana roda menggelinding. Kalau aku sedang banyak masalah sih random, bisa yang tidur seharian, bisa juga di lain waktu tiba-tiba aku sudah sampai alun-alun Bangkalan. Tapi apa pun aktivitas yang aku lakukan, aku selalu merindukan es tebu. Ya. ES TEBU.

Kenapa es tebu? Yang pasti rasanya enak. Manis dan segar. Dan yang seringkali nggak terpikir adalah, saat lagi banyak masalah sebenarnya energi kita terkuras. Es tebu selain segar juga bisa memulihkan tenaga yang seringkali tinggal sisa-sisa. Itu yang membuat diri ini merasa nyaman lahir batin setelah minum es tebu.

Nah, yang nggak kalah seru adalah bagaimana cara kita mendapatkan es tebu itu. Memang sih, ada titik tertentu dimana di situ ada penjual es tebu yang sudah jadi langganan kita. Tapi apesnya kalau kita udah sampai sana ternyata dianya gak jualan alias tutup. Haduh...!!! Saket hate...!!! Itu pernah terjadi saat aku udah bete markete surkete dan tiba-tiba saja aku ngajak si item jalan-jalan sambil cari es tebu. Apesnya, pas itu tanggal merah, nggak ada es tebu yang buka. Tau gak apa yang terjadi? Aku nangis di atas motor gara-gara gak nemu es tebu....!!!

Di tengah keputusasaan dalam mencari es tebu, aku pacu si item dengan kecepatan tinggi dan tiba-tiba aku melihat ada orang jualan es tebu. Di mataku sih jualannya nggak 'mbejaji' kalau orang Jawa bilang. Gak meyakinkan. Tapi berhubung aku benar-benar membutuhkan es tebu sebagai pelipur lara, aku berhenti juga. Dan benar, rasanya nggak seenak es tebu langgananku. Tapi paling nggak es tebu ini bisa membuat air mataku berhenti mengalir.

Hidup tidak semanis es tebu. Mendapatkan es tebu yang enak pun kadang-kadang gampang banget, kadang-kadang juga susah. Tapi proses mendapatkan es tebu itu memang harus dilalui sebelum akhirnya kita bisa mendapatkan es tebu sebagai pelipur lara kita.....


-didicahya-